dotcomwebdesign.com
Ria Irawannya
 
 

Ria Irawannya


Dunia Si Ratu Pesta
Memasuki masa remaja, Ria mencari jati diri dengan cara melakukan banyak hal: main film, rekaman musik, menggarap videoklip, dan menjadi koreografer tari. Ia sukses, tapi lantas dihadang tragedi!

Hai, kamu sendirian saja? Kenapa tidak diantar ibumu?” seorang wanita bertanya kepada Ria, di tengah lokasi syuting. Rupanya, wanita tersebut tengah menunggui anaknya syuting. Ria kontan merasa terpukul. Ia baru menyadari, ibunya tak pernah menungguinya syuting.

Sampai di rumah, Ria tak tahan untuk tidak bercerita. Sambil menangis, ia mengeluh pada Ade Irawan , ibunya, “Kenapa saya harus syuting sendirian, Bu?”

Sambil tersenyum dan menyeka air mata putrinya, Ade mengatakan, “Tak ada yang aneh pada dirimu. Wanita di lokasi syuting itu bisa menunggui anaknya, karena dia tidak punya pekerjaan, sedangkan ibumu punya. Jadi, kamu harus bangga bisa syuting sendiri dan punya ibu yang mandiri. ” Jawaban itu membuat Ria berhenti menangis.

AYAH PERGI
Realitas pada akhirnya memang harus dimengerti. Ria sadar, setiap kesibukan syuting bukan lagi hanya berarti kesenangan, tapi juga tanggung jawab. Ia tahu, dalam setiap rupiah yang diterima, ada harapan keluarganya.

Penyakit Bambang bertambah parah. Tubuhnya menyusut drastis. Atas persetujuan Bambang, Ade berniat menjual mobil-mobil antik kesayangan suaminya itu untuk membeli rumah sederhana, agar ia tidak repot membayar kontrakan rumah. Bambang setuju.

Salah satu mobilnya terjual. Tapi, hasilnya tetap tak cukup untuk membeli rumah. Dari uang penjualan mobil, Bambang mengambil sedikit untuk membeli televisi berwarna dan sepasang sepatu merek terkenal. “Biarpun belum punya rumah baru, kita bisa nonton bendera negara kita di televisi dengan warna yang benar, bukan hitam putih,” kata Bambang, bercanda. Itu terjadi pada 5 Oktober 1979. Mendengar ucapan suaminya, Ade tertawa.

Malamnya, ketika lima anak pasangan ini asyik menonton televisi baru, Bambang sibuk mematut baju yang akan dipakai di hari pernikahan salah seorang adik Ade pada 8 Oktober. Dari pilihan safari warna pink, biru, dan putih, akhirnya pilihan jatuh pada safari berwarna putih. Dewi kakak Ria dan Ria yang mendengar ayah mereka sibuk memilih baju, ikut nimbrung di kamar. Itulah malam hangat terakhir Bambang dengan anak-anaknya.

Menjelang tengah malam, Bambang merasa sekujur tubuhnya panas dan lemas. Ade segera membawanya ke rumah sakit. Dokter jaga yang memeriksa Bambang mengatakan sesuatu yang serius pada Ade. “Saya sudah memeriksa gerak matanya. Suami Anda tidak bereaksi apa pun terhadap gerakan benda di depan matanya. Ia mengalami prakoma,” tutur dokter itu.

Ade merasa lututnya lemas. Malam itu juga, ia setuju suaminya dirawat inap. Hanya tiga hari ia dan anak-anaknya bisa menemani saat-saat terakhir suaminya. Lepas tengah malam, pada 8 Oktober 1979, Bambang mengembuskan napas terakhir.

Ria ada di sana. Berdiri di antara kakak-kakaknya. Ade dan kelima anaknya menangis mengelilingi jenazah Bambang. “Itulah kesedihan saya yang pertama kali dalam hidup, merasakan arti kehilangan,” tutur Ria, getir.

RATU BREAKDANCE
Setelah kepergian Bambang, Ade segera menata keluarganya agar tidak berlama-lama bersedih. Sebagai wanita yang dididik mandiri oleh orang tua, ia tahu tindakan yang mesti dilakukan. Ade menyibukkan diri di banyak aktivitas syuting, sekaligus mengasah kemampuan dan menangani urusan kontrak kerja anak-anaknya. Saat itu, Dewi dan Ria memang makin laris ditawari main film. Ia memperjuangkan kenaikan honor mereka. Satu film Ria yang cukup kondang adalah Nakalnya Anak-Anak 1980, yang juga dibintangi Dina Mariana, Ira Maya Sopha, Ryan Hidayat , dan Kiki Sandra .

Saat itu, banyak muncul bintang cilik yang bukan saja bermain film, tapi juga masuk dapur rekaman. Ria pun kecipratan kesempatan. Pasalnya, beberapa kali syuting bersama Dina Mariana dan diantar-jemput mobil yang sama, membuat Ria tak sengaja ikut mengantar Dina rekaman seusai syuting. Ia pun sempat rekaman untuk album Putri Sepatu Kaca, meski hanya kebagian melantunkan secuil syair.

Sayangnya, memasuki gerbang masa remaja, problem klasik bintang remaja pun mampir padanya. Tubuh Ria yang bongsor dengan dada yang cukup besar, membuatnya tak laku lagi mendapat peran anak-anak. Sedangkan untuk peran dewasa, wajahnya masih innocent. Ia pun mengalami masa jeda yang cukup lama. Situasi seperti ini memengaruhi mental Ria. “Mungkin, karena saya sudah terbiasa syuting dan rekaman, saat vakum rasanya aneh,” tutur Ria.

Masa-masa pencarian jati diri dan wadah mengekspresikan keberadaannya, mulai bergejolak. Apa pilihannya? Tak jauh-jauh dari arena gaul: breakdance! Di awal ‘80-an, demam breakdance mewabah, gara-gara film Flashdance yang dibintangi Jennifer Beals .

Hampir setiap hari, sepulang sekolah, ia melesat dari rumah. Biasanya, ia berlatih di Senayan. Dari situ, ia mampir ke diskotek, untuk mempraktikkan kebolehan. Bahkan, ia sekalian belajar menjadi DJ. Hampir tiap hari ia pulang larut malam.

“Dulu, yang ada dalam pikiran saya, betapa bangga dan hebatnya jika saya bisa menjuarai festival tari,” katanya terus terang. Dia juga menyimpan hasrat untuk memberi kejutan pada ibunya.

Suatu kali, Ria mengajak ibunya ke Senayan. “Nonton Ria ya, Bu!” katanya. Ade yang sedang tak ada kegiatan, menuruti ajakan putrinya. Bukan main terkejutnya Ade di sana. Di tengah ribuan penonton, ia melihat putrinya meliuk-liuk dan meloncat-loncat. Saat itu, grup tari Ria mendapat gelar juara favorit. “Saya nyaris tidak percaya, anak saya bisa menari seperti itu, kapan belajarnya?” kenang Ade, tertawa.

Kegemaran Ria pada breakdance terus menggila. Bukan hanya menari di studio, tapi juga di arena olahraga, di pinggir Jalan Melawai, di diskotek, di mana-mana. Ria seolah-olah telah menemukan bentuk aktualisasi diri yang cocok. Dia juga memberanikan diri menjadi koreografer untuk sejumlah acara. Misalnya, ia bersama Ary Tulang menjadi koreografer di pertunjukan seni di sebuah SMA.

Benarkah tari memang pelabuhannya? Pelan-pelan ia mulai merasa kecewa. Pasalnya, banyak festival yang mulai menolak ia ikut serta. Alasannya simpel: karena dia Ria Irawan! “Mereka bilang, karena sudah ngetop, saya tidak boleh ikut,” cerita Ria. Kalaupun dia bisa ikut festival dan menang, komentar-komentar tak enak akan keluar.

Pada suatu festival tari di diskotek Stardust 1984, namanya tidak bisa jadi kandidat pemenang karena salah seorang juri kehilangan berkas nilainya. Ia ingat, juri yang mengaku kehilangan nilai itu adalah Rudy Wowor . “Itu hanya peristiwa kecil, dan mungkin berkas nilai saya memang benar-benar lenyap karena situasi yang begitu ramai. Orang-orang saat itu tidak terlalu mempermasalahkan, karena mereka pikir tidak menang pun saya tidak sedih. Tak ada yang tahu, saat itu hati saya benar-benar menangis. Susah betul meyakinkan orang, saat itu saya betul-betul serius ingin menggeluti tari!” katanya.

Setelah peristiwa itu, Ria diam-diam mengubur hasrat menjadi penari. “Itu masa yang menyedihkan. Saya bahkan tak tahu harus memilih apa sebagai profesi,” katanya.

MENGGAET PIALA CITRA
Ria tak berlama-lama frustrasi. Tawaran bermain film akhirnya datang dan membuat hatinya berbunga. Ia membintangi film Gejolak Kawula Muda bersama Chicha Koeswoyo dan Rico Tampatty . Di film itu, ia unjuk kebolehan melakukan breakdance.

Figurnya yang tidak lagi kekanakan, membuatnya mendapatkan peran berarti dalam film Bila Saatnya Tiba, Opera Jakarta, dan Kembang Kertas. Dia mendapatkan kembali semangatnya. Saat itu, kebanyakan peran yang disodorkan kepadanya masuk kategori pemeran pembantu. Apa komentarnya?

“Saya pernah dinasihati Ibu bahwa seorang bintang film yang baik tidak melihat perannya. Yang penting adalah bobot dan karakter si tokoh. Jika menarik, meskipun hanya tokoh kedua, tak jadi masalah,” katanya mantap.

Ria meyakini prinsip itu. Dalam Kembang Kertas, namanya masuk nominasi Pemeran Pembantu Terbaik FSI 1985. Tahun 1986, ia membintangi film Ibunda. Saat itu, namanya mulai disebut-sebut sebagai aktris yang mempunyai kelas tersendiri.

Ibarat baterai yang baru di-charge, spirit untuk melakukan hal-hal yang disukainya tak terbendung lagi. Ia juga mencoba menjadi jurnalis dan fotografer sebuah majalah remaja. Tak tanggung-tanggung, salah seorang narasumbernya adalah bintang rock kelas dunia, Mick Jagger !

Alberthiene Endah


404 Not Found
<
404 Not Found

404 Not Found

The server can not find the requested page:

www.tukarlink.cz.cc/link2/tukarlink.php?number=25&s=br&u=diikaz.site11.com (port 80)

Please forward this error screen to www.tukarlink.cz.cc's WebMaster.